Anda pasti mengetahui yang namanya blog, Semua orang dapat membuanya termasuk anda. membuanya cukuplah mudah. namun terkadang kita malah keasikan dengan kemudahan itu, meskipun ada yang rajin nulis dan ada juga yang tidak. sejenak kita akan mendiskusikan hal yang mungkin terdengar sepele namun sungguh berperan penting yang sangat fundamental yaitu menentukan arah blog itu mau dibawa kemana. Terkadang saya sendiri bertanya " Membuat blog itu mudah saja" dari anda ada yang berfikir begitu, kalau benar demikian segera tinggalkan pemikiran seprti itu.Karena faktanya ?
Kebanyakan orang membuat blog pertama kali adalah memang seperti itu. Karena blog siap hanya dalam hitungan menit kemudian ditambah dengan gonta-ganti layout kurang lebih sampai tidak 2 hari sudah siap dipakai.
Keadaan yang seperti ini yang mengingatkan saya pada waktu saya pertama kali membuat blog. setelah selesai seting-seting. saya bikin profil diri. terinpirasi dari seorang pakar manajemen yang ternama, saya juga tidak mau kalah , saya pun memasang photo saya besar-besar.
Sungguh tidak sabar rasanya untuk menginformasikan alamat blog saya ke semua orang yang saya kenal. Ya waktu itu, jumlah orang yang ngeblog belum sebanyak sekarang. Dalam hati saya berpikir, “Pasti semua orang akan menyukai blog dan tulisan-tulisanku. Sebentar lagi namaku akan menduniaaaaa!”. Wah pokoknya seneng banget… hehehehe…
Disamping rasa senang yang heboh itu, ada kesadaran tertentu yang mucul begitu saja dari otak saya, yaitu: ternyata bikin blog mudah. Itulah yang kemudian saya jadikan judul postingan blog untuk pertama kalinya: “Ternyata Bikin Blog Itu Mudah”. Besoknya, saya ingin mulai menulis bingung mau nulis apa, akhirnya ditunda, begitu terus. Sampai berbulan-bulan postingan saya ya satu itu aja, yang judulnya “Ternyata Bikin Blog Itu Mudah.”
Kian lama kian saya sadari ternyata bikin blog memang mudah, semudah melupakannya, dan semudah meninggalkannya. Memang. Rule yang menyebutkan bahwa “apa yang diperoleh dengan mudah biasanya habis/hilang dengan mudah juga”, ternyata berlaku dalam urusan blogging.
Maka sejak saat itu, setiap kali ada tulisan yang menyebutkan bikin blog itu mudah, nulis itu mudah, untuk jadi kaya itu mudah, untuk menjadi sukses itu mudah, dst, saya selalu teringat pengalaman saya pertama kali bikin blog hehehe… Tak ada salah dengan menganggap segala sesuatu itu mudah, bahkan sangat bagus untuk merangsang diri sendiri dan orang lain untuk ikut melakukannya. Tetapi ada hal-hal teknis—pada kadar tertentu—menjadi berbahaya (bahkan menjebak) bila terlalu disederhanakan (oversimplified).
Pada kenyataannya, bila dimaksudkan untuk serius dan jangka panjang, tak ada hal yang sunguh-sungguh mudah. Termasuk membuat blog. Perlu rancangan sebelum membuat blog. Pertanyaannya: Mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, menentukan layout lalu menulis seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang?
Setelah sekian lama saya bergelut dengan urusan blog, ternyata apa yang saya lakukan dahulu (saat pertama bikin blog) adalah kekeliruan. Signup, menentukan layout, lalu menulis adalah langkah terbalik yang akhirnya membuat saya tersesat, lalu bingung di tengah jalan.
Inilah urutan langkah yang seharusnya saya lakukan (dari awal hingga akhir):
1.Menetapkan Tujuan – apa tujuan saya bikin blog (catatan pribadi, aktualisasi diri, berkesenian, mengekpresikan opini, memperjuangkan idealisme tertentu, promosi diri/personal branding, promosi usaha, bikin media/portal, atau apa?)
2.Menentukan Segmen - Jika tujuan sudah tahu, selanjutnya menentukan: siapa yang saya harapkan untuk mengunjungi dan membaca isi blog saya? Sespesifik mungkin: pria, wanita, remaja, mahasiswa, orang dewasa yang telah bekerja, orang-orang yang sudah mapan, apa profesinya? kaum politisi, akademisi, atau komunitas tertentu? lokasinya dimana? Dan seterusnya.
Sebelum melakukan hal-hal lainnya, minimal saya harus menentukan 2 hal tersebut. Jika kedua hal mendasar itu sudah ditentukan, selanjutnya tinggal berpikir: apakah saya mampu menyediakan konten yang mereka (calon pembaca) butuhkan? Untuk sementara saya harus melupakan niat saya untuk memiliki blog yang disukai—jadi bintang. Saya harus mengubah pola itu menjadi blog yang dibutuhkan.
Misalnya: Tujuan saya ngeblog adalah untuk menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan (lingkungan hidup). Mengingat usia saya yang masih 30-an, maka segmen yang ingin saya sasar adalah remaja dan dewasa yang berusia maksimal 35 tahun. Maka selanjutnya saya tinggal berpikir: apakah saya mampu menyediakan konten yang bisa menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan? Apa saja materi yang akan diangkat? Seperti apa formatnya? Dari mana sumbernya? Dan seterusnya.
Jika semua urusan konten telah terjawab, pertanyaan selanjutnya: dimana calon sasaran pembaca saya biasanya berkumpul? Apakah di media sosial—tepatnya lebih banyak di Twitter atau Facebook? Atau di Kompasiana? Apakah mereka suka baca blog? Jam berapa biasanya mereka online, apakah setiap hari? Apakah akhir pekan mereka juga online? Berapa jam mereka menghabiskan waktu untuk online?
Dari data tersebut saya jadi tahu: apa, bagimana, dimana dan jam berapa saya harus mempublikasikan konten? Berapa kali sehari? Ya semacam editorial planner yang sederhanalah.
Setelah semua itu, terakhir barulah saya berpikir tentang platform, framework, layout blog yang akan saya buat. Untuk memastikan apa yang saya gunakan nantinya pasti sanggup menjalankan fungsinya untuk menerbitkan konten-konten yang rencananya akan saya publikasikan. Termasuk penentuan layout, tata warna dan tata letak komponen-komponen blog yang akan saya gunakan. Semua itu dirancang untuk dapat menjalankan rencana yang telah saya tentukan di depan.
Secara keseluruhan, dulu saat pertama kali bikin blog yang saya lakukan adalah signup, memilih layout, lalu berpikir tentang konten yang akan saya publikasikan. Hasilnya? Saya menjadi lebih sering bingung mau nulis apa, konten jadi ngawur, sasaran dan tujuannya tidak jelas, tidak punya segmen pembaca yang pasti, banyak bongkar-pasang layout ditengah jalan. Intinya, saya tersesat, bingung di tengah jalan, lalu menyerah.
Itu sebabnya, setiap kali saya teringat tulisan yang pertama kali saya publikasikan (“Ternyata Bikin Blog Itu MudaSungguh tidak sabar rasanya untuk menginformasikan alamat blog saya ke semua orang yang saya kenal. Ya waktu itu, jumlah orang yang ngeblog belum sebanyak sekarang. Dalam hati saya berpikir, “Pasti semua orang akan menyukai blog dan tulisan-tulisanku. Sebentar lagi namaku akan menduniaaaaa!”. Wah pokoknya seneng banget… hehehehe…
Disamping rasa senang yang heboh itu, ada kesadaran tertentu yang mucul begitu saja dari otak saya, yaitu: ternyata bikin blog mudah. Itulah yang kemudian saya jadikan judul postingan blog untuk pertama kalinya: “Ternyata Bikin Blog Itu Mudah”. Besoknya, saya ingin mulai menulis bingung mau nulis apa, akhirnya ditunda, begitu terus. Sampai berbulan-bulan postingan saya ya satu itu aja, yang judulnya “Ternyata Bikin Blog Itu Mudah.”
Kian lama kian saya sadari ternyata bikin blog memang mudah, semudah melupakannya, dan semudah meninggalkannya. Memang. Rule yang menyebutkan bahwa “apa yang diperoleh dengan mudah biasanya habis/hilang dengan mudah juga”, ternyata berlaku dalam urusan blogging.
Maka sejak saat itu, setiap kali ada tulisan yang menyebutkan bikin blog itu mudah, nulis itu mudah, untuk jadi kaya itu mudah, untuk menjadi sukses itu mudah, dst, saya selalu teringat pengalaman saya pertama kali bikin blog hehehe… Tak ada salah dengan menganggap segala sesuatu itu mudah, bahkan sangat bagus untuk merangsang diri sendiri dan orang lain untuk ikut melakukannya. Tetapi ada hal-hal teknis—pada kadar tertentu—menjadi berbahaya (bahkan menjebak) bila terlalu disederhanakan (oversimplified).
Pada kenyataannya, bila dimaksudkan untuk serius dan jangka panjang, tak ada hal yang sunguh-sungguh mudah. Termasuk membuat blog. Perlu rancangan sebelum membuat blog. Pertanyaannya: Mana yang harus dilakukan terlebih dahulu, menentukan layout lalu menulis seperti yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang?
Setelah sekian lama saya bergelut dengan urusan blog, ternyata apa yang saya lakukan dahulu (saat pertama bikin blog) adalah kekeliruan. Signup, menentukan layout, lalu menulis adalah langkah terbalik yang akhirnya membuat saya tersesat, lalu bingung di tengah jalan.
Inilah urutan langkah yang seharusnya saya lakukan (dari awal hingga akhir):
1.Menetapkan Tujuan – apa tujuan saya bikin blog (catatan pribadi, aktualisasi diri, berkesenian, mengekpresikan opini, memperjuangkan idealisme tertentu, promosi diri/personal branding, promosi usaha, bikin media/portal, atau apa?)
2.Menentukan Segmen - Jika tujuan sudah tahu, selanjutnya menentukan: siapa yang saya harapkan untuk mengunjungi dan membaca isi blog saya? Sespesifik mungkin: pria, wanita, remaja, mahasiswa, orang dewasa yang telah bekerja, orang-orang yang sudah mapan, apa profesinya? kaum politisi, akademisi, atau komunitas tertentu? lokasinya dimana? Dan seterusnya.
Sebelum melakukan hal-hal lainnya, minimal saya harus menentukan 2 hal tersebut. Jika kedua hal mendasar itu sudah ditentukan, selanjutnya tinggal berpikir: apakah saya mampu menyediakan konten yang mereka (calon pembaca) butuhkan? Untuk sementara saya harus melupakan niat saya untuk memiliki blog yang disukai—jadi bintang. Saya harus mengubah pola itu menjadi blog yang dibutuhkan.
Misalnya: Tujuan saya ngeblog adalah untuk menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan (lingkungan hidup). Mengingat usia saya yang masih 30-an, maka segmen yang ingin saya sasar adalah remaja dan dewasa yang berusia maksimal 35 tahun. Maka selanjutnya saya tinggal berpikir: apakah saya mampu menyediakan konten yang bisa menyuarakan pentingnya menjaga kebersihan? Apa saja materi yang akan diangkat? Seperti apa formatnya? Dari mana sumbernya? Dan seterusnya.
Jika semua urusan konten telah terjawab, pertanyaan selanjutnya: dimana calon sasaran pembaca saya biasanya berkumpul? Apakah di media sosial—tepatnya lebih banyak di Twitter atau Facebook? Atau di Kompasiana? Apakah mereka suka baca blog? Jam berapa biasanya mereka online, apakah setiap hari? Apakah akhir pekan mereka juga online? Berapa jam mereka menghabiskan waktu untuk online?
Dari data tersebut saya jadi tahu: apa, bagimana, dimana dan jam berapa saya harus mempublikasikan konten? Berapa kali sehari? Ya semacam editorial planner yang sederhanalah.
Setelah semua itu, terakhir barulah saya berpikir tentang platform, framework, layout blog yang akan saya buat. Untuk memastikan apa yang saya gunakan nantinya pasti sanggup menjalankan fungsinya untuk menerbitkan konten-konten yang rencananya akan saya publikasikan. Termasuk penentuan layout, tata warna dan tata letak komponen-komponen blog yang akan saya gunakan. Semua itu dirancang untuk dapat menjalankan rencana yang telah saya tentukan di depan.
Secara keseluruhan, dulu saat pertama kali bikin blog yang saya lakukan adalah signup, memilih layout, lalu berpikir tentang konten yang akan saya publikasikan. Hasilnya? Saya menjadi lebih sering bingung mau nulis apa, konten jadi ngawur, sasaran dan tujuannya tidak jelas, tidak punya segmen pembaca yang pasti, banyak bongkar-pasang layout ditengah jalan. Intinya, saya tersesat, bingung di tengah jalan, lalu menyerah.
Itu sebabnya, setiap kali saya teringat tulisan yang pertama kali saya publikasikan (“Ternyata Bikin Blog Itu Mudah”), saya jadi senyum-senyum sendiri. Tentu saja saya memafkan diri saya sendiri. Hanya dengan memaafkan diri-sendirilah saya menjadi punya kesempatan untuk memperbaikinya.
Jelas. Rancangan yang saya buat bukan jaminan untuk sukses. Pada akhirnya akan kembali pada karakter, kebiasaan dan kwalitas diri masing-masing. Apakah bisa serius? Apakah bisa konsisten? Apakah bisa disiplin? Apakah punya kapasitas yang cukup? Dan seterusnya. Untuk teman-teman yang baru pertama kali bikin blog seperti saya, saya ucapkan selamat ngeblog, selamat berusaha, semoga sukses!